17 December, 2011

Cerpen Sedih : Sepenggal Kisah

Mohon maaf sebelumnya kalau judulnya di atas disebutkan dengan Cerpen Sedih. Sebenarnya Editor StudentMagz.com juga belum sempat meresapi secara dalam maknanya. Namun, dari sang pengirim sekaligus pengarang yang biodatanya bisa dilihat pada akhir cerpen ini tertera judul Cerpen Sedih. Baiklah, tidak perlu panjang-lebar sebagai pengantar. Langsung saja kita baca Cerpen seputa percintaan remaja yang katanya Cerpen Sedih ini:

Sepenggal Kisah

Untuk cinta,
Tak perlu alasan mengapa
Meski terkadang
Selalu butuh alasan untuk cinta

Alisa menyisir rambut ikal sebahunya dengan tidak bersemangat. Begitupun ketika mengenakan jilbab. Alhasil, jilbab segi empat-nya tidak juga berbentuk. Ya Allah, tenangkanlah aku, doanya dalam hati.

Pukul 06.35
Alisa telah berhasil mengenakan jilbabnya. Walau tak serapi biasanya, tapi sudah lebih baik dibanding tadi. Ini gara-gara Andra, dengusnya sebal. Dia selalu saja cari gara-gara. Selalu saja membuatnya sebal. Apa dia tidak bosan mencari masalah dengannya?
“Alisa.... ayo berangkat. Keburu telat nih....” teriak Meyza, sahabat Alisa.
“Iya...” sahutku. ”Ibu, Alis berangkat. Asaalamu’alaikum...’
“Waalaikumsalam. Kok kamu nggak sarapan?’ tegur ibunya.
“Udah telat, bu.”
Ibu Alisa hanya geleng-geleng kepala.
***

Pelajaran akuntansi hari ini sungguh membosankan, lebih membosankan dari biasanya. Bagaimana tidak, selama 2 jam bu Risma hanya membiarkan muridnya membuat laporan arus kas yang tak ia mengerti bagaimana caranya. Alisa memang payah di mata pelajaran ini.
“Kok banyak yang belum kamu isi sih tugas akuntansinya? Nggak biasa ngitung uang banyak ya?” Andra mulai meledek Alisa. Alisa tak menanggapi. Sudah biasa Andra meledeknya.
“Maklum sih. Uang saku aja paling cuma seribu,” lanjut Andra, membuat emosi Alisa mulai mendidih.
Alisa beranjak dari kursi. “Kamu bisa nggak sih, sehari aja nggak rese sama aku?”
“Sayangnya nggak bisa tuh...” ucap Andra, semakin membuat Alisa kesal.
“Percuma nanggepin cowok stres kayak kamu!” ucap Alisa emosi, kemudian setengah berlari keluar kelas.
“Tumben kamu keluar?” tegur Mira, teman sekelas mereka.
“Iya nih. Ada cowok stres di dalem.”
“Siapa?” tanya Mira sambil melongok ke dalam kelas.
“Siapa lagi kalau bukan Andra?” jawab Alisa dengan nada emosi. Mira tersenyum.
“Kamu kenapa? Kok malah senyum-senyum?”
“Kamu nyadar nggak. Andra tuh naksir kamu!” seru Mira riang.
Alisa tertawa getir. “Apa? Ya nggak mungkin lah. Dia tuh udah jelas-jelas nggak suka sama aku.”
“Alisa... Alisa. Dia kayak gitu sebenernya cari perhatian aja ke kamu.”
“Cari perhatian apanya? Dia tuh keterlaluan banget. Kamu masih inget kan pas pengumuman beasiswa dan aku dapet, dia bilang aku pantes banget dapet beasiswa itu karena aku miskin.”
“Ya, aku inget. Mungkin emang Andra orangnya asal ceplos. Tapi aku yakin, Andra pasti naksir kamu.”

***
Ssat pelajaran geografi, Alisa tidak bisa berkonsentrasi. Ia memikirkan kata-kata Mira. Mungkinkah Andra suka padaku? Ah, apa yang kupikirkan, jelas-jelas Andra tidak suka padaku. Lagipula, ngapain juga mikirin hal nggak penting kayak gini? Gumamnya dalam hati. Ia pun berkonsentrasi menyimak pelajaran geografi.
Tak terasa 2 jam geografi usai. Berganti dengan bahasa jerman. Tapi ngomong-ngomong, tumben Andra nggak bikin heboh tadi? Ah, bodo amat lah, pikir Alisa. Tak sengaja matanya bertatapan dengan Andra yang duduk di pojok belakang. Dan... ya Allah. Kenapa dia menatapku begitu? Alisa buru-buru mengalihkan pandangan ke depan, fokus menyimak conversation yang dibacakan bu Dona.

Pelajaran bahasa jerman berlalu begitu cepat. Padahal Alisa masih excited mendengarkan penjelasan bu Dona. Hmm... selalu begini. Waktu selalu berlalu begitu cepat saat kita melakukan hal yang kita suka, begitu sebaliknya.
Bel istirahat kedua berbunyi. Teman-teman sekelasnya mulai berhamburan keluar kelas. Hanya Alisa, Tina, Elis, dan Tono yang tidak keluar. Mereka memang pendiam. Tidak suka nongkrong di kantin atau ikut mengobrol di luar kelas.

“Yaelah... ni anak. Nggak bosen apa ngendon terus di kelas? Tegur Meyza.
“Kamu ni kayak baru kenal aku aja, “ ucap Alisa sambil tersenyum. Meyza berbeda kelas dengan Alisa. Alisa di kelas IPS, sedangkan Meyza di kelas IPA. “Kamu sendiri tumben nggak ke kantin?” Alisa balik bertanya.
“Udah kenyang banget. tadi pas istirahat pertama, Diaz nraktir aku bakso. Abis 2 mangkok. Hehe...”

“Dasar kamu ni. Badan doang yang kurus, perut udah kayak gentong aja.”
Meyza nyengir. “Eh, Lis. Aku balik ke kelas dulu ya. Tadi aku nggak pamit sama Diaz kalau kamu ke sini.”

“Oh... oke deh. Aku juga mau keluar.”
“Pasti mau ke perpus.”
“Hehehe. Ya daripada bete. Kan mumpung istirahat ke-2 waktunya panjang. Aku lagi nggak sholat, jadi bisa puas baca buku deh.”
“Dasar kutu buku. Aku duluan ya...” Meyza setengah berlari menuju kelasnya.
“Oke, daaa...”

Alisa sangat senang berada di perpustakaan. Selain banyak buku, ruangannya sangat sejuk dan nyaman. Kekesalannya pada Andra bisa sejenak ia lupakan saat berada di sini. Tiga puluh menit berlalu. Bel masuk kelas berbunyi. Alisa setengah berlari menuju kelasnya, takut terlambat mengikuti pelajaran kewarganegaraan. Pak Zein, gurunya selalu on time.
“Santai aja kali...”

Alisa menoleh. Huh, dia lagi.
“Pak Zein nggak masuk hari ini.” Kata Andra sambil terus menjajari langkah Alisa.
“Tahu darimana kamu?” Alisa menghentikan langkahnya.
“Ya tahu lah. Aku kan gaul, selalu update. Nggak kayak kamu, ngendon mulu di kelas. Hahaha...”

Alisa cemberut. Mulai lagi, batinnya. Ia pun meneruskan langkahnya menuju kelas. Andra mengekor di belakang Alisa sambil terus menggoda. Ada saja tingkahnya untuk membuat Alisa sebal. Menarik-narik jilbab Alisa lah, menginjak tali sepatu.
“Mau kamu apa sih?” Alisa kehilangan rasa sabar. Emosinya meluap.
“Apa aja boleh...” jawab Andra dengan entengnya seraya nyengir, membuat Alisa makin emosi.

“Belum puas ya kemarin numpahin es ke buku tugasku?”
“Belum tuh.”

Mata Alisa memerah. Bulir air mata perlahan mengalir dari matanya. “Sebenernya aku salah apa ke kamu sampe-sampe kamu segitu bencinya sama aku? Kamu gangguin aku terus, bikin aku kesel. Apa maksud kamu?”

Andra menatap Alisa dengan wajah haru. Ia tak menyangka Alisa akan marah padanya. Selama ini, Andra selalu diam tiap kali Andra mengganggunya.
“Alisa... kamu kenapa nangis?” tiba-tiba Diaz datang. Ia lalu memeluk pundak Alisa. “Pasti gara-gara kamu!” Diaz menunjuk Andra dengan tatapan tajam. Andra menunduk.”Aku peringatin ya, sekali lagi aku liat kamu nyakitin Alisa, aku nggak akan segan-segan nonjok kamu!”

Andra menatap Diaz dengan tatapan marah. “Emang kamu siapanya Alisa, hah? Pacar bukan, tetangga jauh. Nggak usah ikut campur deh.”
“Tutup mulut kamu! Alisa sahabat pacarku, jadi aku punya hak untuk melindungi dia!”

Andra mengepalkan tangan. Emosi. Ia berlari ke lapangan sepak bola. Sementara itu, Alisa menatap punggung Andra sambil terus menangis.
“Udah, Alis. Jangan nangis lagi ya. Kalau dia macem-macem lagi, bilang sama aku. Biar aku tonjok.”
“Makasih ya Diaz...”
“Iya, sama-sama. Ya dah aku ke kelas dulu ya. Tadi aku Cuma izin keluar kelas sebentar.”
“Sekali lagi makasih ya.’
Diaz mengangguk, kemudian berlari menuju kelasnya.
Alisa duduk di bawah pohon dekat perpustakaan. Air matanya masih menetes. Entah kenapa ia masih merasa sedih melihat Andra bertengkar dengan Diaz tadi. Hatinya sakit menyaksikan Andra diancam Diaz, lebih sakit daripada saat Andra meledeknya. Padahal, harusnya ia senang saat Diaz membelanya.

Pukul 13.30. setengah jam lagi bel pulang sekolah berbunyi. Alisa tidak berniat kembali ke kelas. Lagipula, pak Zein sepertinya tidak memberikan tugas karena tadi ia melihat teman-temannya nongkrong di kantin. Ia pun memutuskan ke kamar mandi, mencuci muka.

Setelah mencuci muka, matanya terasa fresh. Ini kali pertamaAlisa menangis di sekolah. Karena Andra. Andra memang sangat menyebalkan. Temperamental, kasar, semau gue. Teman-teman sekelas tidak ada yang suka padanya. Makanya Andra tidak punya teman. Sebenarnya bila ia mau berbaur dengan anak-anak cowok bisa saja ia punya teman. Tapi Andra selalu menyendiri.

Alisa baru sadar. Selama ini Andra bahkan tidak pernah bergaul dengan siapapun. Hanya Alisa yang diajaknya mengobrol. Ya, walaupun Andra lebih banyak meledek dan mengganggunya. Apakah Andra menyukainya? Ah, tapi sepertinya tidak mungkin. Alisa merasa tidak ada satupun dalam dirinya yang bisa menarik seorang cowok seperti Andra. Ia cupu, tidak cantik. Lagipula Andra suka meledeknya, menjelek-jelekkan dirinya. Itu tandanya Andra tidak suka padanya.

Bel pulang sekolah berbunyi. Alisa bergegas menuju kelasnya untuk mengambil tas.
“Alisa... kamu baik-baik aja?” Meyza menghampiri Alisa.
“Iya... aku baik-baik aja kok.”
“Emang kurang ajar Andra. Mana dia? Biar aku marahin dia.”
“Nggak perlu, Mey. Tadi Diaz kan udah marahin Andra, jadi menurutku udah cukup.”
Meyza geleng-geleng kepala. “Kamu tuh udah disakitin sama Andra tapi masih aja belain dia.”

Alisa hanya diam. Ia sendiri juga tidak tahu kenapa. Ia sama sekali tidak membenci Andra, hanya sebal.

“Oh iya. Alis, aku mau ngerjain tugas fisika sama Diaz. Maaf ya aku nggak bisa pulang bareng.”
“Iya, nggak apa-apa kok.”
“Aku suruh Diaz anterin kamu ya?”
“Nggak usah, makasih. Aku bisa pulang sendiri kok.”
“Ya dah kamu hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa call aku aja.”
“Oke, kamu juga hati-hati ya. Salam buat Andra.”
“Oke nanti aku sampein. Daaa...”
“Daaa...”

Alisa melihat ke arah bangku Andra. Tas Andra masih ada. Kemana dia? Kenapa belum pulang? Apa aku ke lapangan aja ya? Batin Alisa. Ia ingin memastikan apakah Andra baik-baik saja.

Lapangan bola terlihat sepi. Ia tidak menemukan Andra di sana. Ya Allah, kemana Andra? Ia mulai cemas. Alisa memutuskan mencari Andra di aula yang tertletak di sebelah timur lapangan. Aula juga sepi. Tapi... “Ya Allah... Andra!” serunya. Alisa berlari ke arah pintu utara aula. Ternyata Andra ada di situ. Mukanya pucat, nafasnya turun naik.
“Andra... kamu kenapa?”

Andra tidak menjawab. Nafasnya semakin kencang.
“Kamu sesak nafas? Kita ke UKS ya. Yuk aku bantu jalan.”
“Ti... tidak usah. Kamu... di sini aja... temenin aku...”
Alisa menurut. Ia duduk di sebelah Andra dengan perasaan tak menentu. Cemas, sedih, takut, bingung.
“Biasanya sembuhnya diapain?” tanya Alisa polos. Ah, tentu saja ada obatnya. Tapi, sepertinya Andra tidak membawa obat. “Andra... aku bener-bener khawatir...”
“A... Aku nggak apa-apa kok...”

Alisa memeluk Andra. Ia berharap dengan begitu sakit Andra bisa berkurang. Ya walaupun belum tentu bisa. Tapi saat ini hanya itulah yang bisa ia lakukan. Jantung Alisa berdebar kencang. Ia bisa merasakan nafas Andra yang memburu. Hampir satu menit Alisa memeluk Andra. Sedetik kemudian, nafas Andra mulai teratur. Alisa melepaskan pelukannya. “Alahamdulillah...” ucapnya senang. Ia menatap Andra yang balas menatapnya dengan tersenyum. Ya Allah, kenapa hatiku deg-degan? Ucap Alisa dalam hati.

“Makasih ya. Aku...” Andra tidak melanjutkan kata-katanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Alisa memeluknya. Ia bahagia sekali. Rasa sakitnya hilang seketika.

Alisa menunduk. Pipinya merah. “Mmm... maaf tadi aku nggak bermaksud... aku... aku cuma bingung harus gimana.”

Andra tersenyum. “Nggak apa-apa. Aku malah seneng kamu peluk tadi. Makasih ya.”
Andra senang? Apa maksudnya? Tanya Alisa dalam hati. Ah, sudahlah. Apapun itu, yang penting Andra sudah tidak sakit lagi sekarang.
“Mmm... Andra. Apa sesak nafas kamu sering kambuh?”
“Ya... kadang-kadang kalau aku lagi kecapekan atau banyak pikiran.”
“Orang tua kamu tahu kamu sesak nafas?”
“Nggak ada yang tahu kecuali kamu.”

Kasihan, Andra. Sepertinya tidak ada yang memperhatikan dia.
“Lain kali kamu jangan lupa bawa obat ya.”
Bukannya menjawab, Andra malah menatap mata Alisa dalam-dalam. “Kamu baik banget sama aku, padahal aku sering nyakitin kamu.”
Alisa tersenyum. “Jujur aku emang sebel sama kamu. Tapi aku tidak pernah membenci kamu...”

“Sebenernya aku melakukan itu karena... karena ingin mencari perhatian kamu.”
Alisa agak terkejut. Tapi kemudian tersenyum malu. Andra gemas melihat Alisa begitu. Alisa terlihat manis sekali.
“Tapi... kenapa?” tanya Alisa polos.
“Karena... aku... aku... sayang sama... kamu...”
Jantung Alisa berdebar. Ia bahagia mendengar Andra mengatakan itu. Ah, perasaan apa ini?
“Aku tahu, aku bukan cowok yang baik. Aku tidak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik. Tapi... aku tidak bisa mengingkari rasa ini...”
“Tapi kenapa kamu bisa sayang sama aku? Aku sama sekali tidak menarik.”
“Apa perlu alasan untuk sebuah rasa yang indah ini?”
“Tidak. Tapi aku ingin tahu mengapa. Agar aku bisa meyakinkan diriku untuk memiliki rasa yang sama.”
Andra meneteskan air mata. Ia sangat bahagia mendengarnya. “Kamu... juga memiliki rasa yang sama?”
Alisa juga meneteskan air mata.”Apa aku perlu menjawabnya?”
“Tentu saja. Agar aku bisa meyakinkan diriku bahwa ini bukanlah mimpi.”
Alisa mencubit pipi Andra. “Aw, sakit!”
Alisa tertawa. “Kamu ini.” Andra mengacak-acak jilbab Alisa. Kemudian meraih kepala Alisa dan disandarkan di bahunya. Alisa mandah saja, menikmati rasa nyaman di bahu Andra. Dalam hati ia masih tidak percaya. Rasa ini... sungguh magis. Lembut menembus hatinya. Kenapa harus pada Andra hati ini terpaut? Tapi Alisa tidak peduli. Cinta takkan pernah salah memilih hati siapa yang akan dilabuhinya. Andra mungkin punya banyak kekurangan. Alisa juga. Dan cinta akan melengkapi kekurangan itu.
“Alisa...” Andra menatap mata Alisa.
“Ya, ada apa Andra?” Alisa balas menatap mata Andra.
“Aku sayang kamu...”
“Aku juga sayang kamu...”
(Untuk Eko Febrianto, kisah kita belum selesai...)

Biodata Penulis Cerpen:
Nama : Ershe Wida Mei Liana
Nama Pena : Asara Adania
Alamat Kost : Jl. Abdul Muis No. 7 Gedungmeneng Bandar Lampung
Alamat rumah : Ds. Madukoro baru Dsn. Sukadamai No. 20 Kotabumi Utara - Lampung Utara
TTL : Kediri, 27 Mei 1991
Pendidikan : Mahasiswa Fakultas Hukum Univ. Lampung Semester 3
No. HP : 085789847089/085380658465

Artikel Terkait
Share this article now on :

4 komentar:

toyibbasuki said...

HEMZ MNYENTUH SEKALI CERITANYA

Anonymous said...

Bagus sih ceritanya.... akhir yg bahagia seharusnya!!!

Anonymous said...

cerita nya menyentuuuh. aku jadi terharuuu :')

Anonymous said...

makasih udah baca cerpenku... kuharap cerita cinta kalian berakhir bahagia..

Post a Comment