07 March, 2011

Efek Rumah Kaca - Global Warming

Efek Rumah Kaca dan Global WarmingEfek Rumah Kaca dan Global Warming

Bumi dibungkus dalam selimut udara disebut atmosfer, yang terdiri dari beberapa lapisan gas. Matahari jauh lebih panas dari bumi dan memberikan dari sinar panas (radiasi) yang berjalan melalui atmosfer dan mencapai Bumi. Gas di atmosfer menyerap sebagian panas dan memantulkannya ke ruang angkasa. Gas-gas ini disebut gas rumah kaca dan proses alami antara matahari, suasana dan Bumi ini disebut efek rumah kaca, karena bekerja dengan cara yang sama seperti rumah kaca. Jendela rumah kaca memainkan peran yang sama seperti gas-gas di atmosfer, menjaga beberapa panas agar tetap di dalam rumah kaca.

Beberapa kegiatan manusia juga memproduksi gas rumah kaca. Gas-gas ini terus meningkat di atmosfer. Peningkatan jumlah gas rumah kaca memiliki pengaruh terhadap seluruh planet ini.

Pembakaran bahan bakar fosil - batubara, minyak dan gas alam - melepaskan karbon dioksida ke atmosfer. Menebang dan membakar pohon juga menghasilkan banyak karbon dioksida.

Sekelompok gas rumah kaca yang disebut chlorofluorocarbon, - yang biasanya disebut CFC- telah digunakan dalam aerosol, seperti kaleng hairspray, kulkas dan dalam pembuatan plastik busa. Mereka ditemukan dalam jumlah kecil di atmosfer. Dalam kadar yang sedikit gas ini menahan panas matahari di atmosfer sehingga bumi tidak terlalu dingin di musim dingin. Namun dalam jumlah besar tentu dapat membuat suhu bumi makin panas.

Dengan lebih banyak panas terperangkap di Bumi, planet ini akan menjadi lebih hangat, yang berarti cuaca seluruh bumi akan berubah. Sebagai contoh, musim panas akan lebih panas, dan musim dingin juga lebih dingin. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada kehidupan di muka bumi. Keadaan bumi yang makin panas ini disebut dengan global warming atau pemanasan global.

Efek lain dari pemanasan global adalah melelehnya es yang ada di kutup. Sehingga tentu permukaan laut akan semakin tinggi. Peristiwa ini akan menimbulkan potensi kepunahan bagi hewan kutup. Lain hal dengan daerah lain, daratan bumi akan berkurang. Bahkan ada pulau yang tenggelam dan lenyap. Dan beberapa negara juga akan kehilangan sebagian wilayahnya.
Artikel Terkait
Share this article now on :

1 komentar:

Dario Abisali said...

Ide tersebut diatas sangatlah cocok dan sangatlah bagus bila diterapkan di indonesia. Biomass sangat banyak tersebar, belum lagi kalo kita bicara Limbah kertas dan Limbah sawit. Luuuuuaaarrrrr biasa banyak dan dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar terbaharukan secara kontinyu. Alangkah sayangnya bila pihak Usahawan dan Pemerintah tidak memperdayakan sumber bahan bakar ini.

Kami telah melakukan riset panjang dan telah diuji cobakan di industri. Hasilnya sangat Luar Biasa. Untuk Aplikasi energi pembangkit listrik pun sangat Mumpuni. Kami Mengundang Para Investor untuk mengaplikasikan teknologi ini agar menjadikan Indonesia yang terdepan dalam pengolahan Energi Biomass, dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomass. Jadi Ide bukan hanya hidup di dunia mimpi dan Khayalan namun harus sebagai kunci untuk membuatnya jadi nyata.

Contact us at : dananekocahyono@yahoo.com.sg

Untuk teknologi Aplikasi yang kami sudah aplikasikan bisa di lihat di daftar blog kami dibawah ini (Terima kasih Sudah Berkunjung, Jangan lupa beri Komentar)
What is Biomass and Bioenergy di : http://santosorising.blogspot.com/2012/01/what-is-biomass-and-bioenergy.html
Usulan Pemecahan Masalah untuk Pengolahan limbah sludge di PT Adiprima Suraprinta di : http://santosorising.blogspot.com/2012/01/usulan-pemecahan-masalah-untuk.html
Usullan Pemecahan Masalah di PT PINDO DELI PULP & PAPER MILLS di : http://santosorising.blogspot.com/2012/01/sludge-kertas-sebagai-sumber-bahan.html\
Perbandingan Biaya Konsumsi : http://santosorising.blogspot.com/2012/01/perbandingan-biaya-konsumsi.html
PERBANDINGAN PENGGUNAAN BBM DAN BIOMASS Tahun 2006 di : http://santosorising.blogspot.com/2012/01/perbandingan-penggunaan-bbm-dan-biomass.html

Post a Comment