05 March, 2012

Cerpen Cinta : Pelangiku

pelangiku, cerpen cinta, cerpen pelangi
Hujan baru saja reda, pelangi mulai terlihat indah di hamparan langit yang belum begitu cerah. Disaat aku sedang asyik menikmati keindahan warna pelangi,terdengar suara memanggil namaku. Kulihat keluar jendela kamarku,oh ternyata Lia teman sekelasku. Ia mengajakku untuk bermain biola di taman dekat rumah kami.Kebetulan kami berdua senang sekali bermain biola bersama.

“Ris, main biola di taman yuk.” ajak Lia.
“Kapan?” tanyaku singkat.
“Ya sekarang lah!” jawabnya dengan nada yang agak keras.” Kamu mau ya,” mohon Lia.

“Hmm…, mau nggak ya?”
“Ayolah Ris, mumpung belum hujan lagi.”
“Iya, tapi tunggu sebentar ya.”

Akhirnya aku mensetujui ajakan Lia, aku pun bergegas mengambil biola yang berada di dalam lemari bajuku. Setelah sampai di taman ternyata sudah banyak orang yang berada di taman itu.

“Hihh..,dingin. Kita pulang aja yuk, dari pada masuk angin, lagipula udah ramai.” Kataku karena aku merasakan tiupan angin yang sangat menusuk tulang ku dan itu sebenarnya alsanku untuk membujuk Lia agar kami dapat pulang.
“Ah, itu alasanmu saja. Udah deh, kita gabung sama temen-temen yang lain yuk.”
“Heh..,males ah.”
“Huh, ya udah deh up to you.” jawab Lia sambil meninggalkanku sendiri duduk di bawah pohon dengan air yang tak henti-hentinya menetes dari ranting-ranting pohon.

Sesaat aku sedang memandangi pelangi, ada seorang anak laki-laki yang sepertinya berjalan menuju ke tempat aku sedang duduk. Mendekat,mendekat dan mendekat, mulai terlihat senyuman manis dari seorang anak laki-laki yang sepertinya kukenali.

“Hey, masih inget aku nggak.” dia bertanya kepada ku.
“Bismaa?” jawabku dengan sedikit bingung, karena selama beberapa tahun ini aku tidak bertemu dengan Bisma dan sekarang wajahnya sedikit berubah. Bisma adalah teman sekelasku saat aku masih duduk di bangku SD.

“Iya benar, kamu masih ingatkan?”t anya Bisma lagi.
“Iya aku ingat.” jawabku.
“Kamu kesini sendiri?”t anya Bisma kepada ku.
“Oh,nggak kok,aku kesini sama Lia.”
“lho,t api Lia nya mana?” tanya Bisma sambil melihat sekelilingnya.
“Sebentar aku panggilkan.” ”Li..Lia lihat nih siapa yang datang.”

Sebenarnya aku terpaksa manggil si Lia, padahal aku pengen berdua aja ngobrol sama si Bisma. Soalnya memang dari SD aku suka sama si Bisma.hehehe

“Ris, siapa yang datang.” Tanya Lia dengan nafas yang terengah-engah setelah berlari menghampiri ku.

“Bisma.” jawabku singkat
“Oh Bisma , gimana kabarnya, kok baru sekarang sih ke Semarang, hmm kamu kangen sama aku ya?” Tanya Lia pada Bisma.

“Kamu GR banget sih Li, Bisma datang kesini karena kangen sama aku bukan sama kamu hahaha.”jawabku sambil menatap wajah Bisma yang tambah ganteng itu.
“Hahaha…ada ada aja kalian. Aku kesini buat ngisi liburan akhir semester.” jawab bisma sambil tersenyum.

“Ohhhhh. Jadi nggak kangen nih sama kita berdua?” tanya Lia dengan nada yang sangat datar.

“Nggak gitu juga, aku kangen kok sama kalian, kalian kan sahabatku.” jawab Bisma dan lagi-lagi dia tersenyum.

“Ohh ya?” tanyaku untuk meyakinkan jawaban Bisma.
“Iya Risma cantik.” jawab Bisma singkat.Meskipun singkat tetapi kata-kata itu sudah membuatku sangat GR.

“Ris, Li, nanti sore kalian mau nggak aku ajak jalan-jalan.” ajak Bisma
“Yah.., aku nggak bisa ikut Bis, nanti sore aku mau nganterin kakakku ke perpustakaan.” jawaban Lia.

“Kalau kamu Ris?”
“Kalau aku sih mau-mau aja apalagi perginya sama kamu.” aku menjawab dengan sedikit malu.

“Jiahh, kalau sama Bisma aja gakk pakek “Hmmm…” tapi klo sama aku pasti pake “Hmmm..ikut nggak ya?”sela Lia.Maksudnya “Hmmm…” selalu pikir-pikir dulu setiap pergi sama Lia.
“Hehehe sorry Li.”

Waktu masih menunjukkan pukul. 13.00, aku sudah tidak sabar menanti saat-saat bersama Bisma. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari laptopku tak sadar ternyata jam di dinding rumahku sudah menunjukkan pukul.15.15 WIB Sebelum Bisma menghampiriku aku pun berdandan agar Bisma tersepona eh salah terpesona dengan ku.ckackackkk.
Beberapa menit kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumahku 3 kali. Hahh..ternyata yang mengetuk pintu rumahku si Bisma. Aku dibuat kagum olehnya.
“Hey.. Kok bengong sih, yuk kita berangkat nanti keburu malam nih.” Bisma berkata padaku sambil menepukkan tangannya ke bahu ku.

“Iya, yuk.”

Kami berdua pun pamit dengan ibuku yang sedang menyiram bunga di halaman rumah, lalu kami pun berangkat dengan mengendarai motor yang dibawa Bisma.
Sampailah kami di tempat tujuan. Ternyata Bisma mengajakku ke sebuah mall yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Pertama kami menuju ke tempat yang menyediakan berbagai macam pakaian.Huhh, ini saat yang paling buat aku bete, nungguin orang beli baju.Tapi nggak buat Bisma.Setelah kami masuk, Bisma pun segera menuju ke tempat pakaian yang dianggap sesuai dengan seleranya.Beberapa menit setelah memilih, Bisma memanggil aku.

“Risma, kesini sebentar!” panggil Bisma.
Aku langsung menuju ke tempat Bisma berdiri.
“Ada apa Bis?”

“Menurutmu aku lebih pantas pakai yang mana, kanan apa yang kiri?”tanya Bisma sambil menunjukkan 2 helai kaos bewarna biru dan abu-abu.

“Menurutku yang abu-abu.” jawabku.
“Ohh, ya udah aku ambil yang abu-abu.” Bisma pun memutuskan untuk membeli kaos yang bewarna abu-abu.

“Ehh, kamu nggak beli, Ris.” tanya Bisma kepadaku.
“Nggak Bis, aku lupa bawa dompet.” jawabku.

“O.., ya udah sana pilih baju yang kamu suka. Masalah bayar membayar serahin semua ke aku, aku kan yang ngajak kamu kesini.” kata Bisma dengan cara berbicaranya yang cool. ohh

Aku pun mengambil kaos bewarna abu-abu mirip seperti kaos yang dipilih Bisma. Setelah membayar, kami berdua menuju ke bagian sepatu, toko buku dan terakhir Bisma mengajakku ke restaurant Jepang yang masih berada di dalam mall tersebut.

Setelah kami makan, kami pun segera keluar dari mall tersebut. Saat kami sampai di depan mall terdengar suara rintikan air yang sepertinya akan hujan. Dan ternyata benar, hujan pun mengguyur kota Semarang sore ini.
“Aduh gimana nih, hujan .” kataku dengan nada agak menyesal.
“Ya udahlah Ris, harus gimana lagi.Kita tunggu aja hujannya sampai reda.” tanggap Bisma.

Beberapa saat kemudian suara derasnya air hujan mulai tak terdengar lagi,dengan perlahan awan abu-abu menghilang dan tampaklah busur cahaya yang menghiasi langit sore ini.Kami berdua pun segera berjalan menuju dimana motor Bisma diparkirkan.Saat sedang bersiap akan memakai helm,sejenak aku menatap langit yang tidak cerah lagi.

“Ris, kamu lihat apa sih?” tanya Bisma sambil memakaikan helm ke kepalanya.
“A..a..aku lihat pelangi.Tu.”j awabku sambil menunjuk keatas kearah pelangi.
“Ohh..” respon Bisma singkat.
Saat diperjalanan aku masih menatapi pelangi yang tak henti-hentinya membuatku senang. Tiba-tiba Bisma menghentikan motornya di taman yang tidak asing bagiku.

“Lho, kok berhenti Bis.” tanyaku pada Bisma.
“Udah turun aja, aku ngajak kamu kesini biar kamu bisa menikmati pelangi yang indah itu.” jawab Bisma dengan senyumannya yang khas dari bibirnya.
Kami pun duduk disalah satu bangku taman yang sedikit basah karena hujan beberapa menit yang lalu.

“Kenapa sih kamu kok kagum sama pelangi?” Bisma bertanya kepadaku.
“Karena pelangi itu baik, pelangi tanpa pamrih muncul untuk menghibur bumi kita sesaat setelaah menangis dan pelangi sangat –sangat membuat hidupku lebih berwarna.” jawabku dengan tetap menatap kearah pelangi.

Setelah kami puas memandangi pelangi, Bisma mengantar aku pulang. Sampai di rumah aku langsung kekamar untuk ganti baju, lalu aku makan malam bersama kakak ku. Selesai makan aku ke kamar untuk tidur, karena saat itu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB. Saat aku mulai merebahkan badanku di kasur, saat itu pula aku teringat bayang-bayang senyuman Bisma tadi sore. Kayaknya aku ada rasa sama Bisma.

Sudah dua minggu lamanya Bisma berlibur di Semarang, tidak terasa besok adalah kesempatan terakhir aku untuk mengungkapkan semua isi hatiku.

Keesokan harinya, jam masih menunjukkan pukul 06.45 WIB tetapi aku sudah mendengar suara dering hpku yang berbunyi begitu nyaring. Mendengar itu aku langsung mengambil hape ku yang ada di meja belajarku, ternyata Bisma menelponku.

“Hallo,ada apa Bis.” kataku
“Hey Ris, kita ketemu di taman ya.”
“Memm…”aku memutus perkataanku sendiri karena Bisma sudah menutup telponnya.
Beberapa saat setelah aku mengangkat telpon dari Bisma, aku langsung bergegas menuju ke garasi rumahku untuk mengambil sepeda yang akan ku kendarai untuk bertemu Bisma. Setelah aku menempuh perjalanan selama kurang lebih duapuluh menit, aku akhirnya sampai di taman. Aku melihat seorang anak laki-laki dengan kaos abu-abu yang menutupi badannya. Aku pun menghampiri anak itu, karena aku yakin pasti dia Bisma.

“Hey…”aku memanggilnya dari arah yang berlawanan dengan posisi duduknya. Dia pun berbalik melihat kebelakang, ternyata dugaanku benar,Bisma.
“Eh, Risma kamu mengagetkanku saja.” kata Bisma.
“Bis, ada apa sih kok mendadak gini?” tanyaku pada Bisma sambil duduk di sebelahnya.

Bisma hanya menjawab dengan senyuman. Aku dibuatnya tambah bingung.
“Kok cuma senyum sih?” tanyaku lagi.
“Ris, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.” kata Bisma.
“Ngomong apa?”
“Kamu tahu kan hari ini aku harus pulang ke Bali.”
“Iya aku tahu itu, jadi cuma itu yang mau kamu omongin?”
“Ohh, nggak cuma itu.”
Sejenak Bisma terdiam dan lagi-lagi dia tersenyum. Dan beberapa detik kemudian…

“Ris.., aku sayang sama kamu.” kata Bisma sambil menatap mataku. Mendengar kata-kata Bisma, aku merasa ada taman bunga dengan bunga-bunga yang bermekaran. ohh
“Ris.., kamu mau nggak jadi pacarku.” Bisma melanjutkan kata-katanya.
Kali ini bukan bunga tak bermekar kembali, tetapi mulai terlihatlah busur cahaya yang tampak dari taman hatiku. ohh

“SS…s.s..sory Bis aku nggak bisa, kita kan masih kecil. Sekarang kita sahabatan dulu. Mungkin kalau kamu mau nung…” aku memutuskan untuk berhenti berbicara karena Bisma memotong kata-kata ku itu.
“Aku mau nunggu kamu sampai kapan pun,selama aku masih mampu.”
“Benerr?” tanyaku.
“Ya benerlah, Ris.” katanya.

Tiba-tiba hp Bisma berdering, ternyata itu telpon dari mamanya. Bisma diminta untuk segera pulang karena ia dan keluarganya akan segera menuju kebandara untuk pulang ke Bali.

“Ris, aku harus pulang sekarang karena satu jam lagi aku akan terbang ke Bali.” kata Bisma, kali ini Bisma tidak berkata dengan senyumannya tapi sepertinya ia menahan air mata yang akan membasahi pipinya.

“Ya, pulanglah. Tapi ada satu yang aku harapkan darimu.”
“Apa?”tanya Bisma.

“Bis, aku juga sayang sama kamu, kuharap kamu bisa jadi pelangi yang selalu mewarnaiku meski kita tidak bertemu lagi.” kataku. Tak kusadari aku meneteskan air mata dari kelopak mataku.

“Ya aku janji….udah dulu ya.”j awab Bisma sambil melangkahkan kakinya mendekati ku,hahh…diluar anganku.B isma mengecup keningku. Ohh pelangiku. Apakah ini bukti dari kata-kata Bisma tadi?

“Bye..” Itu kata yang diucapkan Bisma sambil berjalan meninggalkan taman.Setelah Bisma melangkah kurang lebih empat meter dari tempatku berdiri, Bisma sejenak menolehkan kepalanya sambil tersenyum dan sepertinya dia telah meneteskan beberapa tetes air matanya.

“Bye.. Bisma semoga tuhan mengijinkan kita bertemu lagi.” kataku dalam hati sambil meninggalkan taman.

Selesai


Cerpen Cinta bertajuk Pelangku diatas adalah karya Meissa Nerinda Kumala. Apakah kamu punya cerpen cinta juga yang mungkin yang lebih bagus? Silakan share disini.

Artikel Terkait
Share this article now on :

0 komentar:

Post a Comment