16 January, 2012

Cerpen: Menyatakan Cinta

Menyatakan Cinta

“Huft . . . hari ini adalah hari sialku” bathinku. Bagaimana tidak, pagi-pagi aku harus bangun kesiangan karena alarm tiba-tiba mati. Saat ingin mandi, air di kamar mandi juga ikut-ikutan mati. Terpaksa harus pinjam kamar mandi tetangga. Dan saat semua sudah beres, ban bocor hinggap di sepeda fixie kesayanganku. “Oh Tuhan…!”.

Untungnya masih ada bus kota yang lewat. Tapi, nasib sial memang sepertinya tidak mau cepat-cepat berlalu dariku. Aku lupa membawa dompet. Alhasil, aku diturunkan ditengah jalan. Sampai di sekolah, aku dihukum membersihkan toilet karena terlambat. Padahal aku telah menjelaskan alasan aku datang terlambat, namun seperti dugaanku, Ibu Metri (guru BP paling killer) tidak akan percaya. Nasib . . .

Penulis Cerpen Cinta, Menyatakan Cinta, Cerpen Menyatakan Cinta - Arini
Sang penulis cerpen Menyatakan Cinta

“huft . . . “ aku menghembuskan nafas pendek saat mengingat kesialan yang bertubi-tubi datang di pagi itu. Aku bersandar di bangku bercat putih, tepat dibawah pohon. Sebuah pohon tua yang rindang, namun sampai sekarang aku belum tahu apa nama pohon itu. Masa bodoh! Memangnya itu penting? Tempat ini menjadi tempat favoritku. Letaknya tidak jauh dari rumahku. Disini aku bisa melupakan kepenatanku saat sedang berada di sekolah ataupun di rumah. Yah.. meskipun hanya sesaat, setidaknya suasana tenang disini cukup membantu.
“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”
Ringtone Terlalu Lama dari Band Vierra itu sengaja kupasang untuk nada dering ponselku. Aku melihat nama yang tertera di layer ponsel itu “Kevin sii Kura-kura sok care” akupun langsung mematikan ponsel dan beranjak pulang ke rumah.

****

“din . . Kevin nyariin kamu tuh. Sana gih temuin dia dulu. Kasihan dia udah nunggu lama” kata mama lembut, saat membuka pintu kamarku.
“iya ma” jawabku singkat. Sejujurnya aku malas bertemu Kevin. Karena 2 hari yang lalu dia menggagalkan acaraku bersama Eza, cowok yang aku suka. Saat itu, aku sedang menunggu Eza di tempat favoritku. Yah… di bangku bercat putih itu tentunya. Aku telah mengirim SMS kalau aku ingin belajar main drum di rumahku. Eza adalah seorang drummer. Dan aku memang ingin sekali belajar main drum. Apalagi jika pengajarnya adalah orang yang suka. Sangat jarang Eza mau membalas sms permintaanku dengan jawaban “iya”. Dan saat itu dia mau mengajariku. Senang? Sudah pasti. Tapi, tiba-tiba ponselku berdering. SMS dari Kevin “din.. tolong aku. Cepet! Aku butuh kamu sekarang. Cari aku di taman puri indah!”
Akupun panik dan langsung menuju taman itu. Ternyata Kevin berbohong dan dengan tampang tidak bersalah dia mengatakan”sorry Din. Aku cuma ngetes seberapa besar kepanikan kamu saat tahu aku dalam bahaya. Aku bercanda”.

“huft . . . tega banget Kevin buat rencanaku gagal” umpatku dalam hati saat mengenang kejadian 2 hari yang lalu. Sejak saat itu aku malas bertemu Kevin dan Eza, marah padaku. “kalau buat janji, tolong tepati”. Itu SMS terakhir dari Eza. Dia sudah tidak mau membalas SMS ku lagi. Walaupun kita 1 sekolah, dia lebih banyak bersikap cuek dan masa bodoh padaku. Nasib . . .

“kenapa? Belum puas buat aku BT??” kataku pada Kevin dengan nada agak tinggi.
“sorry Din. Aku cuma bercanda. Masa Cuma gara-gara hal sepele kaya gitu aja kamu jadi marah sama aku?” jawabnya tanpa ada rasa bersalah.

“gampang banget kamu bilang itu bercanda? Kamu tau kan aku suka banget sama Eza dan kesempatan langka Eza mau ngajarin aku main drum. Bertahun-tahun Vin aku nunggu momen ini. Tapi, dengan hitungan detik aja kamu ngerusak semuanya.”
“Vin… biarpun menurut kamu ini hal sepele, tapi buat aku ini berarti banget. Sekarang Eza udah gak mau balas SMS ku lagi. Dia tambah cuek sama aku . . ! Kamu ngerti gak perasaanku Vin . .!” kataku dengan nada keras. Tak terasa air mataku keluar begitu saja. Akupun langsung berlari ke kamarku tanpa memperdulikan Kevin lagi. Kenapa aku selalu sial?
“dasar kura-kura sok care! Aku benci . . !”

****

“Za . . maafin aku ya atas kejadian 3 hari yang lalu. Itu bener-bener diluar dugaan Za. aku janji Za, lain kali aku gak akan bikin kamu kecewa. Aku bakal tepatin janji aku.” Kataku pada Eza saat sedang ada di koridor sekolah.

“ya” jawabnya singkat.
“iya apa Za?”
“terserah” jawabnya lagi yang membuat aku semakin tidak mengerti. Akupun berjalan mendahuluinya dan membentangkan kedua tanganku kesamping “stop Eza!!”
“apa-apaan sih loe?” kata Eza dengan raut muka marah.
“Za.. apa sih yang membuat kamu itu selalu cuek sama aku? Kenapa cuma sama aku?”
kataku memberanikan diri.

“Za.. apa aku salah suka sama kamu? Pertama kali aku suka sama cowok. Dan salahnya, cowok itu kamu. Cowok yang gak pernah ngerespon semua perhatian aku. Kamu malah sering marah dan cuekin aku”
“Za.. kalau emang kamu ngerasa risih karena rasa suka aku ini, aku bakal berhenti suka sama kamu.” kataku pasrah.

Semua siswa menoleh kearah aku dan Eza berdiri. Ada kasak kusuk diantara mereka. Aku tak peduli lagi apa yang terjadi setelah ini. Akupun berlari pergi tanpa menunggu jawaban dari Eza. Toh aku sudah tahu jawabannya. Aku yakin dia pasti senang terbebas dari cewek muka badak kaya aku.

Aku duduk di bangku bercat putih itu lagi. “hari ini hari sial.. aku harus bisa melupakan Eza . .”bathinku. 1 tahun yang lalu, saat aku masih di kelas yang sama dengan Eza, yaitu di kelas XI IPA1, saat itulah aku mulai suka padanya. Tidak ada yang spesial dari cowok jangkung berambut ala rambut artis Korea (aku tidak tahu pasti model rambutnya apa) dan memiliki kulit putih ini. Dia tidak terlalu tampan, tidak terlalu pintar, tidak juga sangat kaya ataupun menjadi salah satu idola di sekolah. Satu keahlian dia adalah memainkan alat musik drum. Tapi, itu tidak terlalu spesial menurut kebanyakan siswi di sekolahku. Dia tetap cowok biasa.

Sedangkan aku? Siapa di sekolah yang tidak tahu Putri Adinda Pearly. Aku siswi terpopuler di sekolah. Pertama karena aku pintar dalam banyak bidang. Aku sering membawa nama sekolah bahkan sampai kancah Internasional. Kedua karena aku merupakan cheerleader. Ketiga karena aku cantik dan kaya. Bukan aku sombong, tapi orang-orang sering bilang begitu. Tapi aku bukan tipe anak manja atau cewek yang suka pamer kekayaan orang tua. Aku selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda fixie berwarna merah muda. Meskipun aku mempunyai mobil, aku tak pernah menggunakannya ke sekolah. Aku hemat dan mumpung jarak ke sekolah tidak terlalu jauh, untuk apa membuang-buang bensin? Dan masalah naik angkutan umum itu, memang aku ingin hidup mandiri kalau urusan ke sekolah. Aku mempersiapkan diri jika benar aku akan mendapat beasiswa untuk kuliah di Amerika.

Akupun tak pernah berpikir untuk bebas mendapatkan orang yang aku suka karena aku siswi populer. Walaupun banyak cowok yang telah menyatakan cintanya sama aku, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Aku suka Eza. Hanya Eza seorang. Entah karena apa. Rasa suka tak mesti butuh alasan kan? Satu kenyataan yang pahit. Hampir 2 tahun aku menyukainya, tapi dia tak pernah membalas rasa sukaku. Mungkin memang aku harus mengakhirinya. Sebentar lagi Ujian Nasional, jadi konsentrasiku tidak boleh pecah. Aku harus bisa mendapatkan beasiswa itu. Semangat . . .!!

****

Di hari kelulusan…
“horee . . . . kita semua lulus!!!” teriak beberapa siswa sambil berlarian.
Ada beberapa yang menangis. Bukan karena mereka tidak lulus, tapi karena saking terharunya. Tidak ada atraksi corat-coret. Karena sekolah kami memang sangat tertib. Kemarin malam aku telah diberitahu oleh Kepala Sekolah bahwa aku menjadi salah satu peraih nilai Ujian Nasional tertinggi ditambah lagi segudang prestasi yang aku punya. Tentunya aku berkesempatan mendapat beasiswa kuliah di Amerika. Aku senang. Tapi juga sedih. Aku ingat Eza. Aku baru sadar aku tidak melihat sosoknya sejak tadi.
“hai Din! Selamet ya. Akhirnya kamu dapat beasiswa itu juga. Aku ikut seneng dengernya.” Kata Kevin yang berlari menghampiriku.

“iya. Makasi ya Vin” jawabku sambil tersenyum. Aku telah memaafkan Kevin. Toh semuanya telah berlalu. Tuhan saja bisa memafkan Umatnya, kenapa aku tidak bisa memaafkan sahabatku sendiri? Yah … aku telah menetapkan Kevin sebagai sahabatku saat masuk SMA. Dia selalu mau membantuku di setiap kesulitan MOS (Masa Orientasi Siswa) yang aku hadapi. Dia sosok sahabat yang baik, namun kadang telmi dan gak nyambung. Kadang juga perhatiannya kepadaku terlalu berlebihan dan membuat aku kesal. Itulah alasanku menamai dia “Kevin sii Kura-kura sok care”. Karena memang kenyataannya seperti itu.

“kamu lihat Eza gak?” tanyaku.
“dia udah pulang Din. Tadi sebelum kamu datang, dia udah datang duluan. Dia cuma ngeliat pengumuman kelulusan aja terus langsung pulang”
“oh gitu..” jawabku kecewa.
“Din.. aku suka kamu” kata Kevin tiba-tiba.
“ah?? Apa Vin?” akupun terkejut mendengar ucapan Kevin yang tiba-tiba itu. Kenapa dia selalu melakukan hal-hal diluar dugaanku?.

“iya Din.. aku baru sadar. Aku selalu ngasi perhatian yang menurut kamu berlebihan itu, karena apa. Karena aku suka. Karena aku sayang Din” jawab Kevin serius.
“Vin… kamu tahu kan aku cuma suka sama Eza. Yah.. meskipun saat itu aku bilang aku bakal nglupain Eza, tapi ternyata itu gak bisa Vin. Maafin aku..” jawabku.
“hahaa.. GR banget kamu. Aku kan Cuma bilang suka dan sayang sama kamu. Aku gak bilang kalau aku pengen kamu jadi pacar aku. Kenapa kamu minta maaf?” jawab Kevin sambil tertawa kecil.

“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”

Ponselku berdering. “Eza sii Charming Prince is calling”. Itu tulisan yang tertera di ponselku. Langsung saja ponsel itu aku angkat.

“halo Za..”
“selamet ya. Loe jadi dapet beasiswa itu. Moga impian loe tercapai. Sorry kalau gue pernah ngecewain loe. Gue gak pernah sengaja ngelakuin itu”
tutt…tutt…tutt….
sambungan telepon pun terputus.

“Vin, aku ngerti maksud kamu. Thanks kawan” kataku pada Kevin.
“selamat memperjuangkan cinta sejatimu juga kawan..” bathin Kevin.

****

Aku memang perempuan. Tapi itu bukan halangan kalau aku yang menyatakan perasaanku terlebih dahulu kepada Eza. Itu sudah lumrah di jaman se-modern ini. Betul kan? Aku berulang kali menelepon Eza dan mengirimi dia SMS, tapi tak ada jawaban.
“kemana dia?” bathinku.

Entah kenapa, aku ingin melangkahkan kakiku ke bangku bercat putih, tempat favoritku. Sampai disana, ternyata aku menemui orang yang memang sedang kucari-cari, Eza. Dia duduk di bangku itu. Dia sedang mendengarkan lagu. Aku tahu itu karena dia memakai earphone di telinganya sambil mengenggam sebuah ipod putih. Dia masih memakai seragam sekolah. “berarti dia belum sempat pulang” pikirku.

“Eza…?” panggilku sambil menepuk pundaknya.
“hemm… kenapa kesini?” Tanya Eza sembari melepas earphonenya.
“ini kan tempat favorit aku”
“oh” jawabnya singkat. Yah.. seperti biasa.
“kamu sendiri. Ngapain disini?”
“lagi pengen”
“kenapa tetep aja kamu gak bisa ramah sama aku? Tolong Za, sekali aja aku minta kamu jangan nyuekin aku” kataku kesal.
“oh ya. Aku mau ngomong sesuatu Za” lanjutku.
“apa?”
“aku suka kamu dan..” belum selesai aku berbicara tapi Eza memotong pembicaraanku.
“katanya mau berhenti suka sama aku?” kata Eza sambil tertawa kecil.
Pertama kali aku melihat Eza tertawa dihadapanku. Aku senang. Senang sekali.
“aku suka kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” kataku spontan pada Eza.
“waw… agresif banget”
“jawab Za..” pintaku.

“kenapa loe suka sama gue?” tanya Eza dengan wajah serius.
“aku juga gak pernah tahu alasannya. Aku suka kamu iya karena aku suka” entah apa yang telah aku katakan pada Eza. Aku sendiri juga bingung kenapa aku suka Eza.
“memangnya itu penting? Rasa suka gak mesti beralasan kan Za?” lanjutku.
“loe mau gue jawab iya atau nggak?” katanya dengan nada datar.

“lho! Kok kamu nanya aku? Za, aku gak main-main. Aku serius.” Aku hampir kesal setengah mati dibuatnya. Aku sudah menahan malu dan membuang jauh-jauh harga diriku, hanya untuk menyatakan cinta pada Eza. Tapi, sikapnya malah super cuek seperti ini.

“ok. Aku tahu apa jawaban kamu. aku cuma buang-buang waktu disini. Toh kamu juga gak akan pernah peduli sama apapun yang aku bilang.” kataku.

Aku mulai pasrah lagi. Saat aku ingin beranjak pergi, Ezapun berkata sesuatu yang membuatku tertahan disana.

“ini sifat loe yang gak bisa berubah dari dulu. Sok tahu dan gak sabaran. Belum sempat dengerin penjelasan orang, eeh.. udah nyelonong pergi duluan dan ngambil kesimpulan sendiri” kata Eza.

Mama dan Kevin juga pernah bilang seperti ini padaku. Aku orang yang agak arogan, sok tahu, dan tidak sabaran. Itulah alasan kenapa aku sering sial.
“itu karena kamu cuek sama aku. Kamu gak pernah mikirin perasaan orang. Sifat kamu tuh cuek banget” jawabku sekenanya.

“yah.. terserah. Loe gak mau denger jawaban gue?”
“udah pasti kan jawabannya nggak. Aku tahu kok, Za.”
Ezapun tertawa kecil lagi lalu berkata “tuh kan sok tahu”.
“gue juga suka sama loe” lanjutnya. Aku terkejut mendengar ucapan Eza. Apa aku tidak salah dengar? Eza juga suka sama aku? Wahh… senangnya.
“kamu serius Za??” tanyaku sambil menggoyangkan pundak Eza dengan kedua tanganku.
“tapi kenapa sikap kamu selalu cuek sama aku?”

****

Hari ini aku berangkat ke Amerika. Aku akan menjalani tes terlebih dahulu. Jika aku lulus, aku akan langsung diterima. Jika tidak, aku akan menjalani tes kedua untuk beasiswa kuliah di Australia. Aku harus optimis kalau aku bisa melewati tes itu dengan baik.

“kita ke airport ya Pak” kataku pada sopir taxi yang akan mengantarku ke bandara.
“ok neng” jawabnya.
Diperjalanan, aku ingat kejadian saat aku menyatakan cinta pada Eza, pacarku sekarang.
“itu karena gue minder. Loe terlalu sempurna. Loe punya semua yang gue gak punya.”
kata Eza.

“temen-temen gue selalu bilang kalau loe gak pantes buat gue. Biarpun gue juga suka sama loe, tapi gue mutusin buat masa bodoh aja sama loe” lanjutnya dengan nada serius.
“terus sekarang? Kenapa kamu berubah pikiran, Za?”.
“karena gue gak mau nyesel. Nyia-nyiain orang yang sayang sama gue. Dan gue juga sayang sama dia. Sama loe, Din”

Kami berduapun resmi berpacaran. Aku sangat senang karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Yah.. meskipun harus menunggu lama. Tapi, itu karena sifatku yang sok tahu sehingga aku lupa bahwa aku “belum” menyatakan cinta pada Eza.
“..hari ini ku akan menyatakan cinta..menyatakan cinta…
aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama…”
Ponselku berdering. “Eza My lovely boy is calling”.
“halo Za?”

“halo Din. hati-hati di negeri orang yah? Kamu harus selalu jaga kesehatan dan jangan lupa berdoa” terdengar suara Eza yang lembut diseberang sana.
“iya sayang.. Kamu udah berkali-kali bilang gitu sama aku. Tenang aja, aku bisa jaga diri kok. Aku bakal turutin semua nasehat kamu”
Aku akan berusaha menjalin hubungan yang serius dengan Eza. Aku tidak ingin menyia-nyiakan orang yang sangat sulit untuk kudapatkan ini. Aku akan selalu menyayanginya. Meski jauh dimata. Toh.. dekat di hati. Iya kan?

Note: jangan pernah takut menyatakan cintamu. Apapun jawabannya, setidaknya kamu telah mengungkapkan isi hatimu yang terpendam. Karena, akan ada penyesalan jika kamu masih memendamnya.



THE END

Cerpen Cinta ini merupakan karya Ni Luh Juni Arini. Untuk berkomunikasi dengan penulis cerpen dengan judul Menyatakan Cinta ini bisa kontak orangnya di Facebook lewat email: juniarini95@yahoo.com
Artikel Terkait
Share this article now on :

0 komentar:

Post a Comment