06 September, 2011

Mengais Serpihan Moleukul Cinta

Universitas Fakultas Ekonomi, Jakarta – 03 September 2009
“Apa lu kata? Emang gua anak kurang mampu, gua disini hanya dapet beasiswa, namun setidaknya lu hargai gua dong!!” sentak Putri.

Aku pun melerai perkelahian putri dengan Alyska. Memang Putri dan Alyska berbeda 3600. Putri sangat kaya hatinya namun sangat miskin hartanya. Berbeda dengan Alyska. Alyska sangat kaya hartanya namun sangat miskin hatinya. Disini aku tidak memihak pada Putri maupun Alyska. Aku hanya ingin mengajak mereka berdamai.

Tak lama kemudian, Bu Asri datang. Gayanya lengak lengok karena masih muda. Umurnya hanya 32 tahun menjadi dosen Fakultas ekonomi. Bu Asri tergolong disiplin, apabila ditemuinya ada mahasiswa/wi tidur saat pelajarannya maka dia akan dihukum membersihkan kamar mandi.

Rasa kantukku sudah terlanjur membara. Tak kuat aku menahan rasa kantuk yang begitu kurasakan. Sampai akhirnya ku mulai perjalanan tidurku. Saat ku mulai perjalanan tidurku, aku bermimpi, “Dimana aku??” Seruku

“Kau ada didekat rumah Aristoteles.” Jawab seorang pemuda tampan
Aku terkejut, aku sedang ebrada dijaman Aristoteles penemu rumus lingkaran yang terkenal tersebut. Aku semakin tak menyangka, alat alatnya masih sangat tradisional sehingga aku tak dapat mengerti cara penggunaannya. Tiba tiba aku merasa hujan badai menyirami sekitar rumah Aristoteles. Dan ternyata aku terbangun. Bu Asri mengetahui kalau aku sedang tertidur.

Akupun dihukum untuk membersihkan kamar mandi. Rasanya males banget aku. Namun kulakukan semua dengan ikhlas. Aku terkejut saat Hendra, teman baikku dating untuk membantu aku. Awalnya aku tak mau membuat Hendra kecapekan gara gara aku.
Hendra, teman baikku sangat kaya, baik hati, tidak sombong, tak seperti cowok ideal lainnya, Hendra memiliki kekurangan di pigmen. Kondisi genetisnya tak sempurna, menyebabka organisme dalam tubuhnya tak bias membentuk pigmen. Dia terlahir sebagai manusia Albino.

Mall, Kelapa Gading – 03 September 2009 ; 19:23
“Eh, eh lihat ada bule!” Sorak anak anak kecil yang lewat.
Hati Hendra merasa gentar. Namun aku kuatkan iman Hendra untuk tabah menghadapi kekurangan dalam hidup kita. Memang tubuh Hendra seperti Bule yang habis nyebur dari kolam salju, namun hal itu tak mengurangi rasa persahabatanku dengan Hendra.
“Kita makan yuk,” ajakku.

Aku dan Hendra makan di KFC, tiba tiba dilayar LCD yang terdapat di KFC memunculkan video klip lagu Chrisye “Seperti Yang Kau Minta”. Nafsu makan Hendra hilanglah sudah. Memang lagu itu menceritakan ada seorang cowok albini mendamba cinta seorang cewek yang diidamkannya. Sedih rasanya hati Hendra. Karena terlalu sedih Hendra pingsan. Aku segera menelfon papanya dan dibawanya cepat ke rumah sakit.

Rumah Sakit Ciputat – 03 September 2009; 21:47
“Hendra harus mendapatkan perawatan di Singapura karena peralatan disana sudah tergolong modern.” Kata Dokter
Hendra menderita depresi dan kanker pigmen. Sehingga Hendra harus dirawat di Singapura.

Bandara Soekarno-Hatta – 04 September 2009
Aku mengikuti saat saat perpisahanku dengan Hendra dibandara. Aku sanagt prihatin dengan keadaannya. Aku berdoa supaya Tuhan menyembuhkan Hendra dari segala penyakitnya. Perpisahaan Aku dan Hendra sangat mengharukan.

Universitas Fakultas Ekonomi, Jakarta – 05 September 2009
Aku mulai petualanganku tanpa Hendra. Aku mulai menjurus pada pasangan hidupku. Namun taka da seorangpun yang kuanggap cocok. Berhari – hari kumerenung, rasa tak enak menyelimuti hidupku. Akhirnya ku temukan cewek yang kuanggap cocok bagiku. Vita namanya
Vita, cewek umur 21 tahun sangat bersahaja, baik, pintar, tidak sombong,dsb. Aku punmeminta nomor HP, alamat rumah, Pin BB, Facebook, Twitter, Ymail dsb. Namun berita yang begitu mencekam yaitu bahwa Hendra telah tiada. Hendra mengalami kecelakaan pesawat saat menuju ke Singapura. Aku merasa kaget saat berita itu sampai ditelingaku. Akupun sudah belajar banyak dari Hendra untuk menerima kekuranganku.

Rumah Paman-06 September 2009; 07:30
“Ayo ikut paman ke Amsterdam! Paman mau tinggal disana menemani Opa kamu!”
Akupun menyetujui hal tersebut. Aku meminta izin dari orang tuaku ternyata merweka berdua setuju.Akupun langsung berangkat ke Amsterdam minggu siang itu juga. Ku teringat Vita, ku kubur dalam dalam perasaanku dengan Vita dank u mulai hidup yang baru di Amsterdam.

Amsterdam – 07 September 2009; 09:12
Pagi yang sangat mempesona bagiku. Ku mulai kebiasaan yang jauh berbeda dari kebiasaan hidupku di Indonesia. Udara segar dan pemandangan cantik didepanku langsung membuat hatiku terpanah. Rasanya aku tak akan berdecak kagum. Ku mulai petualangan di Amsterdam, Belanda.

Aku meminta izin kepada paman untuk berjalan jalan ke dam Square. Disana biasanya para remaja berkumpul dengan teman temannya. Aku pun sekalian mecari pasangan hidup bagiku. Kumelihat keramaian kota itu. Aku memandang ada seorang cewek yang sedang memetik bunga. Aku mendekatinay,

“Hello! Hoe gaat het? Wie is je naam? tanyaku
Cewek itu tertawa geli. Mungkin karena aku baru beradaptai dengan lingkungan disana.
Namun dia menjawab, “ Nami kula Rosita Angelina”
Apa???? Seorang keturunan Belanda bisa bahasa Jawa?

Setelah dijelaskan ternyata Rosita Angelina adalah keturunan Suriname yang diasingkan pada saat jaman penjajahan Belanda. Aku baru tahu bahwa dia keturunan Suriname yang tinggal di Amsterdam.

Rumah Opa – 07 September 2009; 21:22
Aku tertidur lelap dan bermimpi, ”Sebuah mobil Ferrari meluncur dengan aku di dalamnya pada perjalanan menuju lokasi pertemuan relasi. Lengkap dengan sopir pribadi, music jazz dan ditemani dengan secangkir kopi, ku baca naskah presentasi di laptop mini yang sengaja kubawa dalam perjalanan pagi ini. Aku tak perlu bekerja terlalu keras untuk mendulang rupiah, posisiku sebagai Vice Presiden, cukup membuatku disegani dan hanya perlu tanda tangan berkas di sana-sini, jutaan rupiah sudah kukantongi. Selain uang dan wanita, kemewahan pasti datang sendiri.”

Teras – 08 September 2009; 07:23
Tiba – tiba terjadi Badai besar, menerjang Amsterdam. Aku pun takut. Namun aku selamat dalam badai itu. Namun Rosita hilang tak ada kabar.Aku takut untuk meninggalkan dirinya. Aku berpikir, betapa malangnya nasib Hendra untuk tidak merasakan moleukul cinta dalam hidupnya.

Setelah badai, Turun hujan yang sangat indah, Aku termenung diam. Namun aku harus tetap tabah menghadapi hidup ini alau cobaan tetap menanti.

~TAMAT~

Cerpen Cinta di atas adalah kiriman dari Maxius Gunawan, siswa SMP Negeri 1 Madiun.
Artikel Terkait
Share this article now on :

1 komentar:

Abdul Rojak said...

ini cerita sudah bagus nmun syang kmu yng mengetiknya kurang hati-hati dan banyak kata yang kacau
saranku tolong perbaiki itu.......

Post a Comment