28 June, 2010

Cerpen Pendidikan: Sekolahku di Pedalaman

Cerpen Pendidikan
Judul: Sekolahku di Pedalaman
----------------------------

Sudah lima tahun aku belajar di sekolah “Budi Makmur” ini. Sekolahku berada di daerah pedalaman. Kondisi sekolahku sangat sederhana. Hanya ada tiga kelas. Dindingnya terbuat dari papan dan kulit kayu. Sementara atapnya terbuat dari daun sagu, atau sering disebut daun rumbia oleh suku pedalam. Meja dan tempat duduk kami terbuat dari papan yang dibuat memanjang. Papan tulis hitam berukuran 1x2 meter menggantung di depan kelasku. Se-kolahku hanya berlantaikan tanah. Kalau hujan turun, airnya akan masuk ke dalam kelasku hingga menjadi becek.

Sekarang aku sudah kelas enam. Hanya ada empat orang murid di kelasku. Sedangkan guru yang mengajar di sekolahku hanya ada dua orang. Pak Nantan dan Pak Kurna, mengajar dari kelas satu sampai kelas enam.

Dalam belajar, kami dan guru senang membaur. Seperti mengerjakan latihan misalnya, kami sering mengerjakan dan memecahkannya bersama-sama, dan tidak malu-malu bertanya kalau tidak paham. Kami dan guru terlihat sangat akrab sekali!

Pulang sekolah hari ini aku dibonceng Pak Nantan naik sepeda ontel. Sedangkan Rizal, temanku, ikut dengan Pak Kurna. Kami sering dibonceng seperti ini karena rumah kami berdua paling jauh. Jarak rumah ke sekolahku empat kilo meter. Jam enam pagi aku sudah harus berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki melewati jalan setapak dan hutan belantara.

“Pak Nantan hari ini mancing ke sungai lagi? Boleh Ujang ikut?” tanyaku.

“Bapak hari ini memetik buah kelapa di kebun, Jang. Uang belanja sudah menipis. Besok kalau kelapa-kelapa itu sudah terjual, Bapak pasti akan ajak Ujang mancing di sungai!” janji Pak Nantan.
Aku sedih mendengarnya. Sudah lelah mengajar di sekolah, Pak Nantan harus memanjat kelapa lagi sesampainya di rumah. Kalau tidak, keluarganya tidak bisa makan. Karena dengan menjual buah-buah kelapa itulah Pak Nantan bisa mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Pak Nantan tak menerima gaji mengajar di sekolah, karena Pak Nantan hanya tamat SMP. Tapi niat baiknya ingin memajukan kampungku supaya bebas buta huruf dan pandai berhitung memang patut diacungi jempol.

Setahun yang lalu ada dua orang guru bantu yang dipindahtugaskan dari kota ke kampungku. Betapa gembiranya aku waktu itu. Aku berharap kehadiaran mereka bisa memberikan kemajuan bagi sekolahku. Namun harapanku itu kemudian pupus. Sebulan mengajar, mereka hanya empat kali datang ke sekolahku. Bulan berikutnya, mereka tak pernah datang-datang lagi ke sekolah. Ah, mungkin mereka tak terbiasa dengan keadaan kampungku yang terpelosok jauh berada di pedalaman.

Suatu hari Pak Nantan pernah bertanya kepadaku tentang cita-citaku. “Apa cita-citamu, Jang?”

“Aku ingin jadi seperti Bapak!” jawabku mantap.

“Menjadi guru?” Pak Nantan ter-senyum.

Aku mengangguk, “Aku ingin membuat kampung ini menjadi maju. Aku ingin semua orang bisa membaca dan berhitung. Kalau orang-orang di kampung ini sudah bisa membaca dan berhitung, pasti mereka bisa membangun kampung ini mejadi lebih maju!”

Mata Pak Nantan tampak berkaca-kaca mendengar penuturanku. “Pendidikan di kampung ini memang sangat menyedihkan. Tak ada guru-guru yang mau mengajar di kampung ini. Apalagi kebanyakan anak-anak seusiamu lebih memilih bekerja di ladang membatu orang tua mereka dari pada pergi ke sekolah.”

Air mataku menetes. Aku sedih sekali. Di rumah, seharusnya Abah dan Emak bisa membimbingku belajar dan mengerjakan PR. Tapi mana mungkin. Kedua orang tuaku tidak pandai membaca dan menulis. Malah suatu ketika Abah dan Emak memintaku untuk mengajari mereka membaca, menulis dan berhitung. Wah… Bagaimana mungkin? Apa aku bisa? Ah, tapi akhirnya kucoba juga. Setiap hari setelah pulang sekolah, aku pun mengajari orang tuaku membaca, menulis dan berhitung.

“Abah bangga padamu, Jang. Anak sekecil kamu sudah pandai mengajari Abah dan Emakmu membaca, menulis dan berhitung,” ujar Abah memujiku.

“Emak juga bangga, Jang. Berkat kamu sekolah, Emak dan Abahmu jadi tak bodoh lagi. Emak dan Abahmu sekarang sudah bisa membaca walaupun masih mengeja,” kata Emak lalu mencium kepalaku.

“Terima kasih,” ucapku terharu. “Ini juga berkat Abah dan Emak yang mau menyekolahkanku hingga aku menjadi pintar dan bisa mengajari Abah dan Emak di rumah, hehe…”
Abah dan Emak memelukku, dan menciumi kedua pipiku dengan penuh rasa sayang dan cinta.
Ah, kelak, aku harus bisa membangun kampung ini menjadi lebih maju! Aku ingin semua orang di kampung ini bisa membaca, menulis dan berhitung. Doakan aku, ya, teman-teman!***

Sebuah cerpen pendidikan oleh:
Surya Ismail
Mahasiswa Bahasa Inggris
UIN Suska Riau
Artikel Terkait
Share this article now on :

36 komentar:

Fuad said...

Aku ingin jadi seperti

Anonymous said...

keren banget blognya, mungkin kamu butuh software design grafik, windows atau mau download film silahkan kunjungi http://abdoelcharies.blogspot.com/, semoga bermanfaat

Vivieck said...

keren cerpennya sob...

Anonymous said...

dapat memotifasi kita yang sudah beruntung bisa bersekoah sampai kejenjang yang lebih tinggi

shahar basyaeb said...

assalamualaikum mas/mbak bolehkah anda bantu saya? karena saya ad pr, disuruh nyari tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, amanat dan nilai yang terkandung dalam cerpen tersebut... bisa nggak mas/mbak?, saya butuh bantuan anda?

kurosaki audy said...

nih nama tokohnya sapa yha

shahar basyaeb said...

@atas:maksudx?

wibi said...

maaf, bolehkah saya cantumkan cerpen ini di surat kabar kampus saya?

Hendrawan said...

@Wibi: Boleh, asal disertakan sumber dan pengarangnya...

Anonymous said...

Meow nice job.buat pr nih :D

Anonymous said...

sungguh bagusnya cerita ini !! saya share yaaa !

eko said...

bgus bgt cerpen'y, bsa memotifasi kita yang da sekolah mpe tinggi seperti ne... meskipun sederhana tp bagus BGT, ayo teruz berkarya ea...

ramzy said...

apakah bsa di translate ke bahasa inggris ?

theyvivi said...

saya ambil ya. pke tugas sekolah

Anonymous said...

mauutttzz

yanto said...

mantap cerpen nya biar sluruh rakyat indonesia tidak di jajah oleh kebodohan

ayoolah said...

mantap ni mas. thanks ya.

zeezee said...

kerennnn . like this :))

org mizterius said...

tag da cerpen yang lebih panjang lagi kah dri yang ini ? ?

kalau tag bisa buat cerpen tag usah di iklan kan ! ! !

Syaifullah Azizi said...

keren!!
untuk tugas BI nyambung...
good..

Anonymous said...

exelent......

Anonymous said...

Minta tolong, kebetulan saya ada tugas BI menentukan nilai-niai dalam derpen ini...

betsi said...

keren gan.....

juujul said...

nyentuh banget ceritanya
lanjutiinnnn :)

Anonymous said...

good good good..tag buat tugas BI ,,tq tq tq

Muh Sutrisno said...

mohon ijin copas cerpennya ya!trims

Anonymous said...

bagus,,,,,,,,,,,,,,bgt

tyas said...

.,wiihh cerpennya bagus banget.,

Anonymous said...

izin copas yach ...

april said...

good,,

Anonymous said...

Said....
Ya Sngat Bgus nih Cerpen
cerpennya menginspirasi BANGETS

rusty said...

minta iziin copy cerpen.y yah , untuk tgaas niih :)

nitha puspitha said...

bagussss

tiara aditya elma said...

saya izin copas ya b uat tugas sekolah (: tq before

YSausan said...

bagus niiii... akhrnya nemu juga.
izin copas yaa, buat tugas skolah. ;)
makasiih

Faizin | Cerpen Pendidikan said...

Gak penting sekolah di pedalaman atau kota, yang penting adalah bisa berkarya dan bermanfaat untuk banyak orang.

Post a Comment