04 January, 2009

Kreativitas dan Demokrasi Terbuka dengan TIK

Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi (TIK), hal-hal yang sebelumnya mustahil telah berubah menjadi berbagai kemungkinan baru. Bisa dikatakan, sekarang yang membedakan antara mereka yang banyak mendapatkan pencapain dalam hidupnya dengan mereka yang tidak hanyalah keinginan, semangat dan kegigihan. Kesempatan untuk menginspirasi dan menggerakkan hati orang lain melalui kreatifitas dan demokrasi terbuka lebar dengan TIK.

Tidak terasa, sudah lebih dari enam bulan saya tidak menapakkan kaki di tanah Indonesia. Tuntutan mimpi mengharuskan saya tinggal jauh dari rumah untuk menggali ilmu dinegeri kangguru. Alhamdulillah, selama enam bulan ini saya telah diberikan kesempatan untuk melihat industri TIK di Indonesia dan di dunia menggunakan kacamata yang sedikit berbeda. Walaupun saya sekarang sedang berada di Australia, hidup saya tetap berjendelakan Indonesia.


Tahun 2008 merupakan tahun yang cukup fenomenal bagi saya pribadi dan bagi industri TIK pada umumnya. Facebook, Twitter (dan Plurk), BlackBerry, Mac, iPhone, GPS, video streaming dan internet broadband adalah sebagian dari serpihan teknologi yang semakin matang dan hadir dalam keseharian hidup kita di 2008. Walaupun didera krisis ekonomi yang luar biasa, saya melihat teknologi-teknologi ini akan terus berkembang dan semakin matang ditahun 2009.

Perbaikan teknologi memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah apa yang dilakukan oleh manusia dengan hadirnya berbagai perbaikan tersebut. Pada artikel catatan akhir tahun ini, saya ingin mengajak pembaca BISKOM melihat fenomena kreatif dan demokratis yang telah terjadi didalam dan luar negeri pada tahun 2008 yang akan masuk dan mewarnai tahun sebagian masyarakat Indonesia ditahun 2009.

Aksi Unjuk Kreatifitas Kolektif Anak Muda
Dilahirkan ke dunia yang penuh dengan TIK, sebagian dari anak muda sekarang merupakan generasi pertama yang benar-benar dapat bergantung dengan internet untuk bersosialisasi. Karena kehadirannya yang sangat alamiah, sebagian besar anak muda tidak menyadari bahwa internet memiliki potensi sosial yang luar biasa. Bagi yang menyadari, mereka berani mengambil resiko untuk menyelenggarakan berbagai eksperimen sosial dengan hasil nyata.
Saya ingin mengambil acara unjuk kreatifitas Frozen sebagai contoh. Acara ini, yang sepenuhnya diorganisir menggunakan situs jejaring sosial Facebook oleh sekelompok anak muda yang menamakan diri IMPROV (http://improveverywhere.com) berhasil menggalang perhatian dan partisipasi ribuan pengguna Facebook di berbagai belahan dunia.

Acara unjuk kreatifitas ini memang bisa dibilang sangat sederhana: acara ini hanya meminta partisipan untuk berhenti melakukan aktifitas (menjadi patung hidup) selama lima menit pada waktu dan tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Dilakukan di ruang publik, seperti di New York’ Grand Central Station dan Melbourne’ Flinders St. Station, ajang unjuk kreatifitas seperti ini dijamin menarik perhatian banyak orang.

Selain freeze, IMPROV juga sudah mengorganisir berbagai acara unik lain yang tidak kalah menarik. Diantaranya, IMPROV dapat mengumpulkan belasan pasang anak kembar untuk menciptakan cermin hidup didalam transportasi umum, menggerakkan ribuan orang untuk berada ditempat yang sama untuk mendengarkan dan melakukan berbagai perintah dari sebuah file MP3 yang dimainkan bersama dan menyambut orang-orang tidak dikenal dengan semangat di airport.

Walaupun berbagai acaranya bisa dibilang sederhana, kelompok anak muda seperti IMPROV membuktikan bahwa siapapun dapat menjadi seorang pemimpin dan mengumpulkan massa untuk berpartisipasi dalam acara kreatif menggunakan internet. IMPROV merupakan hasil nyata dari sifat marketing viral yang dimiliki oleh internet, yang dapat melompat dari platform satu ke platform lainnya dengan mudah.

Sampai artikel ini ditulis, anak muda di seluruh dunia sudah mengadakan acara freeze di 70 kota di 34 negara diseluruh dunia. Dengan semakin melekatnya internet dengan kehidupan bermasyarakat di Indonesia, bukan tidak mungkin anak muda Indonesia juga dapat melakukan kegiatan kreatif kolektif yang sama, atau lebih menarik lagi. Kuncinya adalah determinasi untuk menjalankan ide yang yang mendapatkan dukungan online secara offline.

Kompetisi Jejaring Sosial
Bagi sebagian anak muda Indonesia, jumlah teman yang mereka miliki di situs jejaring sosial seperti Friendster dan Facebook adalah barometer penting dari kehidupan sosial mereka. Biasanya, semakin banyak teman yang dimiliki adalah semakin baik. Walaupun terkadang mereka yang berada didalam ring satu pertemanan ini bukan benar-benar seorang ‘teman’.

Baru saja selesai bulan November lalu, penyedia layanan seluler 3 (three) di Inggris mengadakan kompetisi jejaring sosial yang dinamakan Seriously Social Party. Setelah melalui sebuah proses penyaringan berdasarkan latar belakang, 3 (three) memilih 20 peserta untuk berlomba mendapatkan sebanyak-banyaknya dukungan di Facebook untuk merancang sebuah rencana pesta terunik dengan uang 25.000 poundsterling untuk dibelanjakan. Sam Michael, seorang pemuda dari London memenangkan acara ini dengan mendapatkan lebih dari 19.000 dukungan untuk mengadakan sebuah pesta kebun bertemakan the Great Gatsby.

Saya mengantisipasi merebaknya berbagai kompetisi serupa yang mengandalkan situs jejaring sosial diadakan di Indonesia ditahun 2009. Tentunya, sebagai media yang menjangkau lebih banyak orang, acara-acara televisi yang mengandalkan dukungan dengan SMS tidak akan tergantikan oleh situs jejaring sosial dalam waktu dekat.(int/hus)
Artikel Terkait
Share this article now on :

0 komentar:

Post a Comment