30 July, 2008

”Papa, Sih!” - Cerpen

Papa, Sih!
sebuah cerpen

Dari keluarga, memang terasa berat nian hidup ini. Rasanya aku mau kembali saja ke pangkuan mama dan papa pertiwi. Maklumlah aku kan anak semata wayang. Jadi selalu dimanja oleh mama dan papa. Jangankan memasak, mencuci, atau merapikan seprai, menyemprot nyamuk pun di kamar sendiri jarang aku lakukan. Pokoknya aku tahu semua beres. Kan ada Mbah Wati, pembantu kami paling setia. Melayani dan merawatku dengan cinta.

Mama dan papa sibuk terus bekerja. Tetapi begitu pulang kerja, aku seperti boneka. Diperebutkan dipeluk dan dibelai. Aku tahu, mama dan papa sangat menyayangi diriku. Kalau Sabtu dan Ahad, barulah ada acara kuliner keluarga. Mama, aku bahkan papa masak sama-sama. Mbah Wati istirahat total.

Kini tinggal jauh sebagai mahasiswi pada sebuah universitas di sebuah ibukota provinsi, jelas, dong, aku kelabakan. Semua harus aku urus sendiri. Pantas saja sewaktu mama dan papa mengantar aku dulu, papa nyeletuk.
‘’Rasain lu...’’

Aku nggak ngerti apa maksud papa. Papa memang usil. Lucu dan suka ngerjain aku. Aku suka papa yang gaul, seperti beliau. Yang paling tidak bisa aku lupakan, dan membuat aku trauma adalah ketika papa membangunkan aku pakai raket nyamuk yang pakai setrum. Pagi itu juga raket tersebut aku patahkan dan buang ke tong sampah depan rumah.

Yang paling konyol adalah, ketika SMA, aku pergi ke kantor papa dengan Rully, Ketua OSIS, minta uang untuk beli flash disc. Ketika Rully menyalami papa.

‘’Oh, ini Rully yang sering kamu ceritakan sama Papa? Sudah, tak usah pikir panjang. Lihat sepintas saja. Papa sudah tahu, Rully anak baik-baik. Papa setuju kalian pacaran. Kalau perlu tunangan aja sekarang.’’

Di sekolah, ketika peristiwa ini kami ceritakan ada yang sakit perut dibuatnya.
‘’Kreatif juga bokap lu, ya!’’ kata Tutyhera. Semua juga pada tahu, kalau kami berdua nggak ada hubungan apa-apa. Lagi pun, Rully kan sudah punya gandengan, Befy. Aku pun sudah feeling-feeling-an dengan Suharmon.

Sorenya di rumah, papa ‘’kuhajar’’ habis-habisan. Aku berkolaborasi dengan mama untuk ngerjain papa. Papa angkat tangan. Papa janji nggak jail lagi.

***

Di sinilah anehnya, saat-saat begini, ketika malam jatuh pelan-pelan. Semua materi kuliah tadi siang telah kuketik di komputer. Mata belum mau terpejam. Aku ingat papa, ingat mama. Aku rindu dijaili papa lagi.

Tiba-tiba HP Motorollaku memberi isyarat, bahwa ada SMS yang masuk. Setelah kulirik dengan ujung mata, ternyata dari soulmate1. Itu berarti dari mama. Soulmate2, papa..
Aneh! Hubungan batin apa ini? Aku sedang sangat merindukan papa, ee, yang masuk SMS mama. Begitu membaca kalimat pertama SMS mama, langsung dahiku berkerut. Jantungku hampir copot. Betapa tidak.

‘’Finda! Tenang ya! Ini utk mama dan km aja. Diam-diam, tanpa spngetahuan kt, trnyta papa sdh menikah lgi. Dan sudah punya anak laki2. Umr 4 thn. Mama bnr2 kecewa dgn papamu. Dia yg kita kenal baik, kbapakn, ternyta raja slingkuh. Pesan mama. Km tenang, ya! Biar mama yg beresin. Km bljar j yang benar!’’

Tubuhku melemas. Badan serasa kapas! Meski pulsa tinggal sedikit, langsung aku calling mama. Berkali-kali tidak diangkat mama. Kuhubungi papa, juga tidak direspon. Pastilah mereka sedang bertengkar dengan hebatnya. Gawat ini!

Aku hanya bisa menangis. Bagaimana dengan kuliahku dan masa depanku. Meski papa memenuhi segala kebutuhanku, rasanya aku tidak kuat menjalani hidup ini tanpa mama dan papa.
Malam semakin larut, mataku sulit terpejam. Aku ingin terbang dengan pesawat pertama besok pagi. Pulang ke kotaku. Ke pangkuan mama yang sedang tersiksa dan menderita. Tiba-tiba ring toneku berbunyi. Dari mama.

‘’Halo, Finda! Tadi kamu missed call Mama, ya?’’

‘’Iya, kok tidak diangkat. Mama ke mana, sih!’’

‘’Lagi nonton sinetron Cinta Fitri di lantai bawah. Memangnya kenapa?’’

‘’Memangnya kenapa? Memangnya kenapa? Papa mana?’’ jawabku sambil terisak.

‘’Papamu, lagi ketawa-ketawa, tuh, lari ke kamar bawah. Kamu rindu papa, ya. Kok nggak rindu sama mama?’’

‘’Mama ini gimana, sih! SMS Mama itu yang membuat Finda hampir pensiun jadi manusia. Pura-pura lagi.’’

‘’Memangnya Mama ngirim SMS apa? Nggak ngerasa, tuh! Tapi tunggu! Mama cek file SMS terkirim dulu. Mama curiga sama papamu.”

Tiba-tiba, HP-ku berdering lagi. File soulmate2 berkedip-kedip! dari papa.
‘’Selamat malam belahan jiwaku! Maaf! Maaf! Penyakit jail papa kambuh lagi. Habis, lupa minum obat, sih!’’

‘’Jadi SMS tadi itu tidak benar?’’

‘’Ya, nggaklah! Mamamu sibuk nonton sinetron saja. Papa lihat HP nya lagi nganggur. Ya, muncullah ide cemerlang papa. Ya, ngerjain kamu.’’

‘’Mmm Papa, sih’’

Meski pada mulanya jantung mau copot, tapi malam ini akan terasa lebih panjang. Aku ingin bermimpi dengan indah tentang cinta mama dan papa.***

----------------------------
Pandu Syaiful, Guru di Duri

Artikel Terkait
Share this article now on :

2 komentar:

Anonymous said...

TERHARU....salah satu cerpen yang bikin aku netesin air mta saking teharunya...jadi kangen ortu...

Anonymous said...

hmm.. jd ky lgsung ngalamin sndiri. super jaiLLL !!

Post a Comment